Jakarta — Pagi itu, suasana Taman Makam Jeruk Purut diselimuti ketenangan. Di antara deretan nisan yang rapi, sekitar 150 anggota Pramuka dari Kwartir Cabang Jakarta Selatan berdiri tegak, mengikuti upacara ziarah dan tabur bunga menyambut Hari Pramuka ke-64.
Acara ini menjadi momen untuk menundukkan kepala, mengenang jasa para tokoh Pramuka yang telah menorehkan jejak penting dalam sejarah. Di antaranya, Kak Soernarjo Atmodipuro, perancang lambang Tunas Kelapa; Husein Mutahar, penggubah Hymne Satya Dharma Pramuka; H. Noekman, Ketua Kwarcab 1989–1991; H. Burhanuddin Pangku, Ketua Kwarcab 1992–1997; H. Ma’mur HN, Ketua Kwarcab 2015–2020; dan Kak Sudarsono, Ketua Kwaran Pasar Minggu.

Upacara dipimpin oleh Kak Kardiman, Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Kwarcab Jakarta Selatan. Dalam pesannya, ia mengajak seluruh peserta untuk tidak sekadar mengenang, tetapi juga melanjutkan perjuangan dan semangat para pendahulu. “Jasa-jasa mereka adalah pondasi. Tugas kita memastikan nilai-nilai itu terus hidup dan diteruskan,” tuturnya.
Peserta upacara terdiri dari pengurus Kwartir Cabang Jakarta Selatan, pengurus kwartir ranting Jagakarsa, Pasar Minggu, dan Cilandak, serta Pramuka penggalang dan penegak. Momen tabur bunga menjadi puncak keharuan: setiap peserta melangkah pelan, menundukkan kepala, dan meletakkan bunga di pusara para tokoh—sebuah simbol penghormatan yang tak lekang oleh waktu.

Di Jeruk Purut, pagi itu, Pramuka belajar bahwa pengabdian bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga amanah yang harus dijaga oleh setiap generasi.














